dalam sebuah diskusi, para penanya mencecar mas komandan menwa batalyon mahadungu.

“kenapa keamanan mobil dan motor di kampus anda tak kunjung membaik? bukankah itu tanggung jawab menwa?”

“sebetulnya itu rahasia negara. kami diminta menghapus tugas kami sebagai tukang parkir.”

“kalau ada perusuh dari luar menyerbu kampus, apa yang akan menwa lakukan?”

“sebagai bagian dari tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan, mereka akan kami hadapi, apapun risikonya.”

“kenapa kalau militer dan polisi menyerbu kampus dan menganiaya sivitas akademika, menwa diam saja?”

“itu kewenangan rektor, danrem, pangdam, dan tiga menteri untuk menjawab.”

“bukankah menwa mendapatkan latihan kemiliteran itu supaya bisa menghadapi militer?”

“itu kewenangan rektor, danrem, pangdam, dan tiga menteri untuk menjawab.”

“jadi, apa dong manfaat menwa?”

“itu kewenangan rektor, danrem, pangdam, dan tiga menteri untuk menjawab.”

“anda ini jadi pemimpin kok gitu sih, apa-apa diserahin ke atas, ke pembina…”

“itu kewenangan rektor, danrem, pangdam, dan tiga menteri untuk menjawab.”

mendadak ada kegaduhan di belakang. mahasiswa menangkap seekor intel kodam. dari jaketnya ditemukan remote controller. ketika alat itu direbut dan seorang mahasiswa asal pencet tombol, si danyon tiba-tiba berjoget dangdut, sambil menyanyi “di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang…”