pak blengur yang kontraktor itu punya bini muda di kota lain. namanya ratna. wanita itu dia kontrakkan sebuah rumah kecil. suatu hari dari kota lainnya lagi pak blengur menelepon rumah kontrakan ratna. yang menerima pembantunya.
“ya halo, pak. betul, ini bambang. ya, saya pembantu baru di sini. apa pak? maaf, ibu lagi tidur. saya ndak berani membangunkan.”
“ayoh sana, bangunin!”
“tapi ibu lagi tidur sama pasangannya, pak. pintunya mbuka, mereka tampak pules sekali.”
“apa? edan tenan. ya udah gini. ambil tali, lantas ikat kedua orang itu. lima menit lagi aku telepon, mbang!”
tepat, lima menit kemudian blengur menelepon bambang.
“ya, halo, sudah pak. mereka sudah saya ikat. terus gimana ini?”
“bagus! kamu memang pinter, mbang. sekarang kamu masuk ke ruang kerjaku di lantai atas. di laci meja itu ada kemera saku digital. gampang kok pakainya, pokoknya tinggal gini, gini, gini, gitu, gitu, klik, jadi….”
“tapi pak, rumah ini kan cuma satu lantai? halo? halo?! bapak ini siapa?”

